11 Aug 2026
Agustus selalu datang membawa suasana yang berbeda. Bendera merah putih mulai menghiasi jalan, sekolah, kantor pemerintahan, ruang-ruang publik, hingga halaman rumah warga. Lagu-lagu perjuangan kembali terdengar. Kita berbicara tentang kemerdekaan, tentang para pahlawan, tentang pengorbanan, dan tentang Indonesia yang telah melewati perjalanan panjang sebagai sebuah bangsa Tahun ini, Indonesia memperingati 81 tahun kemerdekaan Tetapi di tengah gegap gempita perayaan itu, ada satu pertanyaan yang barangkali tidak cukup sering kita ajukan, Sudahkah anak-anak kita benar-benar merasakan kemerdekaan melalui pendidikan?
Pertanyaan tersebut membawa saya pada sebuah madrasah di Polewali Mandar, MTs Mar Halim, Saya menyebutnya sebagai surat cinta, bukan karena ingin memberikan pujian tanpa kritik. Justru sebaliknya. Surat ini lahir dari kegelisahan terhadap wajah pendidikan kita, sekaligus dari keyakinan bahwa masih banyak sekolah, guru, dan anak-anak di daerah yang menyimpan potensi besar tetapi belum selalu mendapatkan ruang yang cukup untuk tumbuh Sebab, 81 tahun setelah Indonesia merdeka, perjuangan pendidikan belum selesai.
Kemerdekaan Tidak Cukup Dirayakan, Ia Harus Dirasakan
Kita sering memahami kemerdekaan dalam pengertian yang sangat formal: bebas dari penjajahan, memiliki kedaulatan sebagai bangsa, memiliki bendera, konstitusi, pemerintahan, dan wilayah negara, Semua itu benar, Tetapi bagi seorang anak yang duduk di bangku sekolah, kemerdekaan seharusnya memiliki makna yang lebih dekat, Kemerdekaan berarti ia memiliki hak untuk belajar, Kemerdekaan berarti ia boleh bertanya tanpa takut ditertawakan, Kemerdekaan berarti ia boleh memiliki cita-cita meskipun berasal dari keluarga sederhana, Kemerdekaan berarti ia memperoleh kesempatan yang adil untuk mengembangkan potensinya, Kemerdekaan berarti sekolah tidak hanya mengajarkan apa yang harus dipikirkan, tetapi juga membentuk keberanian untuk berpikir, Di sinilah pendidikan menjadi bagian penting dari proyek kemerdekaan Indonesia, Sebab apa arti sebuah negara yang merdeka jika anak-anaknya masih merasa bahwa masa depan hanya milik mereka yang memiliki fasilitas lebih baik?, Apa arti kemerdekaan jika kualitas pendidikan masih terasa berbeda antara satu wilayah dengan wilayah lainnya?, Dan apa arti pembangunan jika masih ada anak yang tumbuh dengan keyakinan bahwa keterbatasan ekonomi, geografis, atau sosial adalah alasan untuk berhenti bermimpi?
Kemerdekaan harus hadir di ruang kelas. Jangan Ukur Pendidikan Hanya dari Gedung dan Angka
Kita tidak dapat menyangkal bahwa infrastruktur pendidikan penting. Ruang kelas yang layak, perpustakaan, laboratorium, perangkat teknologi, akses internet, dan berbagai fasilitas penunjang lainnya memang dibutuhkan, Tetapi pendidikan tidak boleh direduksi menjadi persoalan bangunan, Gedung dapat berdiri dalam waktu singkat, Tetapi manusia membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk dibentuk, Karena itu, kita perlu berhati-hati ketika terlalu mudah menyimpulkan bahwa pendidikan telah maju hanya karena sekolah semakin megah, teknologi semakin canggih, atau program semakin banyak, Ada sesuatu yang lebih penting untuk kita ukur, Apakah anak-anak kita semakin kritis?, Apakah mereka semakin berkarakter?, Apakah mereka semakin percaya diri?, Apakah mereka semakin mencintai ilmu pengetahuan? Apakah mereka semakin peduli terhadap lingkungan dan masyarakatnya? Dan yang paling penting,Apakah mereka masih memiliki keberanian untuk bermimpi? Dan Pertanyaan-pertanyaan tersebut jauh lebih sulit dijawab daripada sekadar menghitung jumlah ruang kelas, Namun justru di sanalah inti pendidikan berada.
MTs Mar Halim dan Keberanian untuk Bermimpi
MTs Mar Halim mungkin bukan madrasah yang memiliki segala sesuatu secara sempurna, Tetapi bukankah pendidikan memang tidak pernah menunggu kesempurnaan?Pendidikan justru sering kali lahir dari keterbatasan, Dari seorang guru yang tetap masuk kelas meskipun fasilitas belum ideal, Dari seorang kepala madrasah yang membuka ruang bagi siswa untuk berkreasi, Dari buku sederhana yang mampu membuka cakrawala seorang anak, Dari pertanyaan seorang siswa yang dijawab dengan kesabaran, Dari seorang guru yang tidak hanya mengajar mata pelajaran, tetapi juga mengajarkan bagaimana menjadi manusia, Di situlah saya melihat MTs Mar Halim sebagai sebuah simbol kecil tentang bagaimana pendidikan seharusnya dibangun, bukan hanya dengan fasilitas, tetapi dengan keberanian menghadirkan gagasan, Sekolah tidak boleh hanya menjadi tempat anak mengejar nilai, Sekolah harus menjadi ruang tempat anak menemukan dirinya, Sebab setiap anak memiliki cerita yang berbeda, Ada yang tumbuh dalam keluarga berada, Ada yang hidup dalam keterbatasan, Ada yang cepat memahami pelajaran, Ada yang membutuhkan waktu lebih panjang, Ada yang percaya diri berbicara di depan kelas, Ada pula yang memiliki gagasan besar tetapi belum memiliki keberanian untuk menyampaikannya, Tugas pendidikan bukan menyeragamkan mereka, Tugas pendidikan adalah membantu mereka menemukan potensi terbaiknya.
Guru Jangan Dijadikan Mesin Administrasi
Dalam berbagai diskusi tentang pendidikan, kita sering lupa bahwa perubahan pendidikan pada akhirnya sangat bergantung kepada manusia yang berdiri di depan kelas, Guru bukan sekadar pengajar.
Guru adalah orang yang setiap hari berhadapan langsung dengan masa depan bangsa, Namun guru hari ini menghadapi tantangan yang tidak ringan. Tuntutan administrasi, perubahan kebijakan, perkembangan teknologi, persoalan sosial peserta didik, hingga ekspektasi masyarakat membuat pekerjaan guru semakin kompleks. Karena itu, ketika berbicara tentang peningkatan mutu pendidikan, jangan hanya menambah beban guru, Berikan pula ruang untuk berkembang, Berikan kepercayaan, Berikan kesempatan untuk berinovasi, Dan yang tidak kalah penting, hargai kerja-kerja pendidikan yang sering kali tidak terlihat, Seorang guru mungkin tidak langsung melihat hasil dari perjuangannya, Tetapi bisa jadi, anak yang hari ini ia ajarkan membaca kelak menjadi orang yang menulis sejarah, Anak yang hari ini ia ajarkan kejujuran kelak menjadi pemimpin, Anak yang hari ini ia dorong untuk berani berbicara kelak menjadi suara masyarakat, Maka, jangan pernah menganggap kerja guru sebagai pekerjaan biasa, Guru sedang menulis masa depan Indonesia, satu anak dalam satu waktu.
Pendidikan Polewali Mandar Harus Berakar pada Identitas
Ada satu hal lain yang tidak boleh kita lupakan dalam membicarakan masa depan pendidikan Polewali Mandar identitas, Polewali Mandar bukan ruang kosong, Kita memiliki sejarah, budaya, bahasa, tradisi, nilai sosial, dan pengetahuan lokal yang diwariskan oleh generasi sebelumnya, Namun di tengah arus digitalisasi dan globalisasi, ada pertanyaan yang patut kita renungkan, Apakah kemajuan pendidikan akan membuat anak-anak kita semakin mengenal akar budayanya, atau justru semakin jauh darinya?, Teknologi tidak boleh menjadi alasan untuk meninggalkan identitas, Modernisasi tidak boleh berarti kehilangan akar, Anak-anak Polewali Mandar harus mampu menjadi generasi digital tanpa kehilangan nilai-nilai lokal, Mereka harus mampu menggunakan teknologi kecerdasan buatan tanpa kehilangan kecerdasan sosial, Mereka harus mampu bersaing secara global tanpa merasa rendah diri terhadap identitas Mandarnya, Mereka harus mampu membaca dunia tanpa lupa membaca sejarah tanah kelahirannya sendiri. Karena itu, pendidikan yang baik bukan hanya mempersiapkan anak untuk pergi jauh, Pendidikan juga harus membuat mereka memiliki alasan untuk kembali dan membangun daerahnya.
Jangan Hanya Mencari Sekolah Unggulan
Ada kecenderungan dalam dunia pendidikan kita untuk terus mencari siapa yang terbaik, Sekolah terbaik, Siswa terbaik, Guru terbaik, Madrasah terbaik, Prestasi terbaik, Persaingan memang penting. Tetapi pendidikan tidak boleh hanya dibangun atas logika siapa yang menang dan siapa yang tertinggal, Kita seharusnya bertanya?, Bagaimana agar semua sekolah dapat tumbuh?, Bagaimana agar anak di sekolah yang fasilitasnya terbatas tetap memiliki kesempatan untuk berkembang?, Bagaimana agar guru di wilayah yang jauh dari pusat kota tetap mendapatkan akses peningkatan kompetensi?, Bagaimana agar teknologi tidak hanya dinikmati sekolah tertentu?, Bagaimana agar anak-anak dari keluarga sederhana tetap memiliki peluang yang sama untuk menggapai pendidikan berkualitas?, Pertanyaan tersebut jauh lebih penting daripada sekadar menentukan siapa sekolah paling unggul, Sebab keberhasilan pendidikan daerah bukan ketika hanya beberapa sekolah menjadi hebat, Keberhasilan pendidikan terjadi ketika tidak ada sekolah yang merasa ditinggalkan.
HMI dan Pendidikan: Kemerdekaan Harus Diterjemahkan Menjadi Gagasan
Sebagai bagian dari BADKO HMI Sulawesi Barat, momentum kemerdekaan ini juga harus menjadi ruang refleksi bagi gerakan mahasiswa, HMI tidak boleh hanya berbicara tentang kebangsaan dalam ruang-ruang diskusi, Kebangsaan harus diterjemahkan menjadi gagasan dan kerja nyata, Salah satu medan perjuangan itu adalah pendidikan, Sebab pendidikan adalah fondasi utama pembangunan manusia, Jika pendidikan kita kuat, maka kualitas demokrasi akan lebih kuat, Jika pendidikan kita sehat, maka kualitas sumber daya manusia akan meningkat, Jika pendidikan kita mampu melahirkan manusia yang kritis dan berkarakter, maka masa depan daerah akan memiliki fondasi yang lebih kokoh, Karena itu, Bidang Pendidikan dan Riset BADKO HMI Sulawesi Barat harus terus mendorong tradisi intelektual, riset, literasi, inovasi, serta keberpihakan terhadap persoalan pendidikan di daerah, Mahasiswa tidak boleh hanya menjadi penonton perubahan, Mahasiswa harus menjadi bagian dari mereka yang merancang perubahan.
Surat Cinta untuk Pendidikan Polewali Mandar
Kepada pemerintah daerah, jangan pernah lelah mendengar suara sekolah-sekolah kecil, Jangan hanya melihat pendidikan dari laporan angka dan capaian program. Dengarkan pula suara guru, siswa, orang tua, dan masyarakat, Kepada para guru, jangan pernah merasa perjuangan Anda sia-sia. Bisa jadi, keberhasilan terbesar seorang guru bukanlah piala yang terpajang di sekolah, tetapi seorang anak yang kelak mampu menjadi manusia yang berguna, Kepada para orang tua, jangan hanya bertanya kepada anak tentang nilai, Tanyakan pula apa yang mereka pikirkan, Apa yang mereka takutkan, Apa yang mereka impikan, Dan apa yang ingin mereka lakukan untuk masa depannya, Kepada anak-anak Polewali Mandar, jangan biarkan keterbatasan menentukan batas mimpi kalian, Dan kepada sekolah-sekolah yang masih berjuang dalam keterbatasan, jangan merasa kecil, Sekolah yang sederhana tidak berarti cita-citanya harus sederhana.
Kemerdekaan Ke-81 dan Tugas yang Belum Selesai, Delapan puluh satu tahun Indonesia merdeka seharusnya tidak hanya menjadi momentum untuk mengibarkan bendera lebih tinggi, Ia harus menjadi momentum untuk mengangkat kualitas manusia lebih tinggi, Sebab bangsa yang besar bukan hanya bangsa yang memiliki sejarah perjuangan panjang, Bangsa yang besar adalah bangsa yang mampu memastikan generasi berikutnya memiliki pendidikan yang lebih baik daripada generasi sebelumnya, Maka surat cinta dari MTs Mar Halim ini pada akhirnya bukan hanya tentang sebuah madrasah, Ini adalah surat cinta untuk pendidikan Polewali Mandar, Untuk guru-guru yang terus bertahan, Untuk orang tua yang terus berharap, Untuk anak-anak yang terus bermimpi, Dan untuk semua pihak yang percaya bahwa pendidikan masih menjadi jalan paling penting untuk membawa daerah ini menuju masa depan, Pada usia kemerdekaan Indonesia yang ke-81, barangkali kita perlu berhenti sejenak dari kemeriahan seremonial dan bertanya kepada diri sendiri, Apakah pendidikan kita sudah benar-benar memerdekakan anak-anak?, Jika jawabannya belum, maka perjuangan kita belum selesai, Mari kita lanjutkan perjuangan itu bukan dengan senjata, tetapi dengan buku, ilmu pengetahuan, riset, teknologi, karakter, kebudayaan, dan keberanian untuk melahirkan gagasan-gagasan baru. Sebab Indonesia yang merdeka membutuhkan manusia-manusia yang merdeka dalam berpikir, Polewali Mandar yang maju membutuhkan anak-anak yang diberi ruang untuk bermimpi, Dan masa depan yang lebih baik membutuhkan sekolah-sekolah yang tidak hanya memiliki gedung yang berdiri, tetapi gagasan yang hidup.
Selamat menyambut 81 tahun Indonesia merdeka, Dari MTs Mar Halim, sebuah surat cinta untuk pendidikan Polewali Mandar, Karena kemerdekaan yang sesungguhnya bukan hanya ketika sebuah bangsa bebas dari penjajahan, tetapi ketika setiap anak memiliki kesempatan yang sama untuk menentukan masa depannya.